Senin, 13 Desember 2010

jurnal dan review jurnal biogenesis

Jurnal Biogenesis

Vol. 2(1):8-12, 2010


UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR BIOLOGI
MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF
DENGAN PENDEKATAN STRUKTUR
DI KELAS 17 SLTP NEGERI 20 PEKANBARU

Yustini Yusuf*) dan Mariani Natalina
Laboratorium Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan MIPA
FKIP Universitas Riau Pekanbaru

Diterima 23 April 2005, Disetujui 5 Mei 200

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian dengan tujuan untuk megetahui peningkatan hasil belajar Biologi melalui Pembelajaran
Kooperatif dengan Pendekatan Struktural di kelas I7 SLTP Negeri 20 Pekanbaru. Sebagai sampel dalam penelitian
ini siswa kelas I7 sebanyak 42 orang. Parameter penelitian adalah hasil belajar, ketuntasan belajar, skor
perkembangan dan penghargaan dengan alat pengumpul data berupa tes. Aktifitas siswa dan guru dalam proses
pembelajaran dikumpulkan dengan lembaran observasi merupakan data penunjang. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa hasil belajar siswa meningkat pada siklus I 54,76% dari siswa tuntas dan pada siklus II 76,19% siswa tuntas,
skor perkembangan siswa pada siklus pertama 3 baik, 10 hebat dan 7 pasangan super. Pada siklus II 2 pasang baik,
7 pasang hebat, 12 super. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif dengan
pendekatan struktural dapat meningkatkan hasil belajar Biologi.

Kata kunci : peningkatan hasil belajar, pembelajaran kooperatif, pendekatan stuktural

PENDAHULUAN

Biologi merupakan salah satu bagian dari Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA) yang sangat besar
pengaruhnya untuk penguasaan ilmu pengetahuan
dan teknologi. IPA juga berperan penting dalam
usaha menciptakan manusia yang berkualitas.
Biologi lebih menekankan kegiatan belajar
mengajar,
mengembangkan
konsep
dan
keterampilan proses siswa dengan berbagai metoda
mengajar yang sesuai dengan bahan kajian yang
diajarkan (Anonimus, 1995).
Dalam pembelajaran IPA, khususnya Biologi,
sangat diperlukan strategi pembelajaran yang tepat
yang dapat melibatkan siswa seoptimal mungkin
baik secara intelektual maupun emosional. Karena
pengajaran Biologi menekankan pada keterampilan
proses.

*) Komunikasi Penulis :

Laboratorium Pendidikan Biologi

PMIPA FKIP Universitas Riau

Keberhasilan proses dan hasil pembelajaran di
kelas dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain
adalah guru dan siswa. Selain menguasai materi
seorang guru juga dituntut untuk menguasai
strategi-strategi penyampaian materi tersebut, cara
guru menciptakan suasana kelas akan berpengaruh
terhadap respon siswa dalam proses pembelajaran.
Apabila guru berhasil menciptakan suasana yang
menyebabkan siswa termotivasi aktif dalam belajar
akan memungkinkan terjadi peningkatan hasil
belajar.
Guru Biologi di SLTP Negeri 20 kelas I7 selalu
merasa tidak puas dalam melaksanakan proses
pembelajaran. Hambatan yang ditemui antara lain
adalah kelas selalu pasif, motivasi siswa untuk
belajar sangat rendah dan sangat sulit untuk
menimbulkan interaksi baik antara siswa dengan
siswa maupun antara siswa dengan guru, sehingga
kelas selalu didominasi oleh guru.
Berdasarkan kenyataan yang ada maka guru
Biologi SLTP Negeri 20 bersama dosen LPTK
mengadakan Penelitian Tindakan Kelas untuk
memperbaiki
strategi
pembalajaran
yang

8

Yusuf dan Natalina : Pembelajaran Kooperatif dengan Pendekatan Struktur

memungkinkan siswa terlibat secara aktif, sehingga
motivasi dan aktifitas siswa akan meningkat.
Model Pembelajaran Kooperatif adalah salah satu
model pembelajaran yang dapat meningkatkan
aktifitas
siswa,
meningkatkan
interaksi,
meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi
pembelajaran dan akan meningkatkan motivasi
siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran.
Salah satu pendekatan dari model pembelajaraan
Kooperatif adalah Pendekatan Struktural, pada
pendekatan ini memberikan pemecahan pada
penggunaan struktur yang dirancang untuk
mempengaruhi pola interaksi siswa. Diharapkan
siswa bekerja sama dan saling membantu dalam
kelompok kecil dan lebih pada penghargaan
kooperatif dan penghargaan individu.
Pendekatan struktural dikembangkan oleh
Spencer Kagen (Kagen, 1993) yang terdiri dari dua
macam struktur yang terkenal yaitu Think–Pair
Share (TPS) dan Numbered–Head Together
(NHT). Penelitian tindakan kelas ini menggunakan
TPS.
Menurut Ibrahim (2000) TPS memiliki prosedur
yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi
siswa waktu yang lebih banyak untuk berpikir,
menjawab dan saling memberikan satu sama lain.
TPS adalah sebagai ganti Tanya-jawab seluruh
kelas.
Dalam pelaksanaan di kelas TPS terdiri dari
langkah-langkah sebagai berikut:
1. Thinking. Guru mengajukan pertanyaan yang
berhubungan dengan pelajaran, kemudian
siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan
tersebut secara mandiri dalam beberapa saat.
2. Pairing. Guru meminta siswa berpasangan
dengan siswa yang lain untuk mendiskusikan
apa yang telah diperkirakannya, disini
pasangan akan memberikan berbagai jawaban
dan berbagai ide jika persoalan khusus telah
diidentifikasi.
3. Sharing. Guru meminta kepada pasangan untuk
berbagi dengan seluruh kelas tentang hal yang
telah mereka bicarakan, dilakukan bergiliran
pasangan demi pasangan sampai lebih kurang
seperempat pasangan yang ada di kelas

mendapatkan kesempatan untuk melaporkannya.

Tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah
untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas I7

SLTP Negeri 20 Pekanbaru melalui Pembelajaran
Kooperatif dengan pendekatan struktural.

METODE PENELITIAN

Menghitung Skor Individu
Perhitungan skor individu ditujukan untuk
menentukan nilai perkembangan individu yang
disumbangkan sebagai skor kelompok. Nilai
perkembangan individu dihitung berdasarkan
selisih perolehan skor test terdahulu dengan skor
test terakhir penilaiannya sebagai berikut:

Skor Test

> 10 point dibawah skor dasar
10 - 1 point dibawah skor dasar
= skor dasar sampai 10 point diatas skor dasar
> 10 point diatas skor dasar
Nilai sempurna

Penghargaan Prestasi Kelompok
Skor kelompok dihitung berdasarkan rata-rata
perkembangan yang disumbangkan anggota
kelompok yang terdiri dari tiga tingkatan
penghargaan misalkan x menyatakan rata-rata skor
kelompok yaitu kelompok hebat bila 11,75 < x <
23,25, kelompok super bila 23,25 < x < 30 (Slavin
dalam Husin, 2001).
Aktifitas siswa dan aktifitas guru dicatat dengan
menggunakan lembaran observasi sebagai data
penunjang.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Belajar Siswa
Pada bagian ini akan disajikan hasil belajar siswa
sebelum dan sesudah pembelajaran kooperatif
dengan pendekatan struktural sebanyak 2 kali
ulangan harian pada pokok bahasan Ciri-ciri
Makhluk Hidup dan Organisasi Kehidupan. Hasil
belajar dapat dilihat pada Tabel 1.
Berdasarkan Tabel 1 dapat dijelaskan bahwa ada
peningkatan hasil belajar antara sebelum dan
sesudah perlakuan pembelajaran kooperatif dengan
pendekatan struktural. Dapat dilihat bahwa hasil
belajar ulangan harian I kurang baik yang
mencapai nilai tinggi sekali hanya 4 orang sama
dengan sebelum dilakukan model pembelajaran

Nilai
pkembangan
Siswa
5
10
20
30
30

9

Yusuf dan Natalina : Pembelajaran Kooperatif dengan Pendekatan Struktur

Kooferatif untuk nilai tinggi dan sedang
peningkatannya kecil sekali.
Untuk ulangan harian II terjadi peningkatan hasil
belajar yang mendapat nilai tinggi sekali 15 orang,
nilai tinggi 10 orang dan sedang sebanyak 7 orang.
Kecilnya peningkatan hasil belajar pada UH I
antara lain disebabkan pada proses pembelajaran
dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif dengan pendekatan struktural belum
berjalan dengan baik, guru masih sulit untuk
mengaktifkan siswa dalam kelompok, membaca,
mengerjakan LKS dan presentasi di depan kelas.
Pada siklus ini dapat dikatakan sebagian siswa
masih bekerja secara individual walaupun sudah
berada dalam kelompoknya.
Pada UH II terlihat peningkatan hasil belajar, ini
disebabkan anak dalam proses pembelajaran sudah
terbiasa dengan model pembelajaran kooperatif

Ketidaktuntasan ini diduga siswa belum terbiasa
dengan
pembelajaran
kooperatif
dengan
pendekatan struktural. Berdasarkan hasil observasi
aktifitas siswa selama proses pembelajaran siklus
pertama ini pelaksanaannya belum sesuai dengan
pendekatan struktural tipe TPS. Masih ada siswa
Tabel 1. Hasil Belajar Siswa Sebelum dan Sesudah
yang bekerja secara individual, tidak mau
Pembelajaran
Kooperatif
dengan
Pendekatan
berinteraksi dengan teman kelompok, masih
Struktural.
enggan mengajukan pertanyaan dan menanggapi.
Hasil Belajar
Kriteria Hasil
Pada UH II siswa yang tuntas sebanyak 76,19%
Sesudah
Belajar
Sebelum
UH I
UH II
dan belum tuntas 23,81%. Hal ini menunjukkan
4 (9,52%) 15 (35,71%)
Tinggi sekali 4 (9,52%)
terjadi peningkatan ketuntasan belajar individu
7 (16,67%) 10 (23,81%) 10 (23,81%)
Tinggi
antara UH I dan UH II. Pada siklus kedua ini
4 (9,52%) 9 (21,43%) 7 (16,67%)
Sedang
proses pembelajaran sudah hampir sesuai dengan
9 (21,43%) 9 (21,43%) 1 (2,38%)
Kurang
tuntutan TPS, hanya ada beberapa kelompok
Kurang sekali 18 (42,86%) 10 (23,81%) 9 (21,43%)
yang masih sukar untuk berinteraksi dengan
Jumlah
42 (100)
42 (100)
42 (100)
siswa dalam kelompoknya maupun dengan guru.
dengan pendekatan struktural. Aktifitas siswa
dalam kelompok sudah baik, pasangan-pasangan Perkembangan dan Penghargaan
bekerja baik, laporan LKS sudah merupakan hasil
Dari hasil belajar yang didapatkan oleh masing-
diskusi kelompok. Sesuai dengan pendapat Eggen masing individu, skor perkembangan yang
el al (1996) bahwa pembelajaran kooperatif diperoleh akan disumbangkan pada kelompoknya
bertujuan meningkatkan prestasi belajar siswa, masing-masing. Skor tersebut akan dapat
mempersiapkan siswa agar memiliki sifat menentukan perkembangan kelompok dan
kepemimpinan
dan
pengalamannya
dalam penghargaan yang diperoleh masing-masing
membuat keputusan, juga memberikan kesempatan kelompok (Tabel 3).
bekerja dan belajar bersama dengan siswa yang
Penerapan
pembelajaran
Kooperatif
tipe
berbeda adat istiadat dan kemampuan.
struktural dengan pendekatan TPS pada siklus I
terdiri dari 21 pasang (kelompok TPS) 3 pasang
Ketuntasan Belajar Siswa
mendapat penghargaan baik, 10 pasang mendapat
Ketuntasan belajar siswa secara individu dan penghargaan hebat dan 7 pasang mendapat
klasikal
selama
dilaksanakannya
model penghargaan super .
pembelajaran kooperatif dengan pendekatan
Pada siklus II yang terdiri dari 21 pasang, 2
struktural dapat dilihat pada Tabel 2.
pasang mendapat penghargaan baik, 7 pasang
Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa terjadi mendapat penghargaan hebat dan 12 pasang
peningkatan ketuntasan belajar dibandingkan mendapat penghargaan super. Hal ini menunjukkan

10

antara sebelum dan sesudah dilaksanakannya
pembelajaran kooperatif dengan pendekatan
struktural. Pada UH I siswa yang tuntas belajar
sebanyak 54,76% dan yang belum tuntas 45,24%.

Tabel 2. Ketuntasan Belajar Siswa Sebelum dan Sesudah
Pembelajaran Kooperatif dengan Pendekaran
Struktural
Hasil Belajar
Kriteria Hasil
Sesudah
Belajar
Sebelum
UH I
UH II
Tuntas
15 (35,71 %) 23 (54,76 %) 32 (76,19 %)
Tidak Tuntas 27 (64,19 %) 19 (45,24 %) 10 (23,81 %)
Jumlah
42 (100)
42 (100)
42 (100)

Yusuf dan Natalina : Pembelajaran Kooperatif dengan Pendekatan Struktur

bahwa bahwa prestasi belajar siswa semakin
meningkat sesuai dengan pendapat Watson dalam
Rosyel (1998) yang menyatakan bahwa kelas yang
diajar dengan pembelajaran kooperatif bersifat
memiliki prestasi yang lebih tinggi dibandingkan
dengan kelas yang diajar melalui pembelajaran
tradisional.

Tabel 3. Skor Perkembangan dan Penghargaan Kelompok
Skor
Penghargaan
Perkembangan
Kelompok
Siklus I Siklus II Siklus I
Siklus II
Hebat
Super
15
30
Mangga 1
Hebat
Super
20
30
Mangga 2
Super
Super
30
30
Salak 1
Hebat
Hebat
17,5
15
Salak 2
Super
Hebat
30
20
Jeruk 1
-
-
-
-
Jeruk 2
Hebat
Baik
20
7,5
Selais 1
Super
Super
30
25
Selais 2
Super
Baik
30
5
Baung 1
Super
Hebat
25
15
Baung 2
Hebat
Hebat
20
20
Patin 1
-
Baik
-
10
Patin 2
Super
Super
30
30
Bayam 1
Super
Hebat
25
15
Bayam 2
Baik
Hebat
7,5
15
Tauge 1
Hebat
-
20
-
Tauge 2
Super
Baik
25
7,5
Kangkung 1
-
Hebat
-
20
Kangkung 2
Super
Hebat
25
17,5
Nuri 1
Super
Hebat
30
17,5
Nuri 2
Super
Hebat
30
17,5
Balam 1
Baik
Super
17,5
25
Balam 2
Super
Super
25
25
Merpati 1
Hebat
-
20
-
Merpati 2

Aktifitas Siswa
Dari hasil observasi terlihat bahwa aktifitas siswa
selama proses pembelajaran kooperatif dengan
pendekatan struktural antara siklus I dan siklus II
terjadi peningkatan. Pada siklus I pertemuan 1 dan
2 siswa masih asing dengan pendekatan struktural
TPS, siswa pada saat mengerjakan LKS masih
secara individu, tidak mau berdiskusi dengan
teman dan tidak ada yang bertanya pada guru dan
tidak ada yang menanggapi hasil presentasi. Pada
pertemuan 3 dan 4 beberapa kelompok sudah mulai
aktif dalam kelompoknya baik dalam mengerjakan
LKS, berdiskusi dengan teman kelompok, bertanya
kepada guru maupun dalam menanggapi
presentasi. Pada siklus ini nampaknya banyak
kelompok yang tidak mau bekerja sama yang
mungkin disebabkan dasar pembagian kelompok

adalah pasangan berdasarkan jenis kelamin yang
berbeda (pria dan wanita), jadi banyak diantara
siswa yang malu-malu bekerja sama dengan
pasangannya. Berdasarkan hasil Refleksi maka
pada siklus II terjadi perubahan kelompok. Dasar
penyusunannya adalah nilai akademik, yaitu siswa
yang bernilai tinggi dipasangkan dengan siswa
yang bernilai rendah.
Pada siklus II tampak siswa sudah terbiasa
dengan
pembelajaran
Kooperatif
dengan
pendekatan Struktural, maka aktifitas kelompok
sudah makin baik hanya ada beberapa kelompok
yang masih tidak mau bekerja sama, masih bekerja
secara individual.

Aktifitas Guru
Karena guru yang mengajar adalah guru yang
sudah senior, secara umum aktifitas guru selama
proses pembelajaran kooperatif sesuai dengan
tuntutan
pembelajaran
kooperatif
dengan
pendekatan Struktural. Kesulitan yang dihadapi
guru hanya mengatur kelompok dan mengarahkan
siswa agar selalu bekerja dalam kelompok.
Pada siklus I karena siswa masih dalam masa
transisi maka untuk presentasi hanya dapat
ditampilkan satu kelompok pada pertemuan 1 dan
2 dan pada pertemuan 3 dan 4 yang baru bisa
tampil 2 kelompok. Disini guru masih kekurangan
waktu karena pada pendekatan Struktural tipe TPS
diharapkan ¼ dari jumlah pasangan dapat
mempresentasikan hasil tugas kelompoknya.
Pada siklus II guru sudah makin baik mengatur
waktu seiring dengan siswa yang sudah baik
melaksanakan pendekatan Struktural tipe TPS
sehinggga pada setiap pertemuan yang mendapat
giliran untuk presentasi di depan kelas antara 4–5
kelompok.

KESIMPULAN DAN SARAN

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran Kooperatif dengan pendekatan
struktural akan dapat:
1. Meningkatkan hasil belajar siswa kelas 17
SLTPN 20 Pekanbaru.
2. Meningkatkan ketuntasan belajar siswa
kelas 17 SLTPN 20 Pekanbaru.

11

Yusuf dan Natalina : Pembelajaran Kooperatif dengan Pendekatan Struktur

3. Meningkatkan nilai perkembangan dan
penghargaan kelompok siswa SLTPN 20
Pekanbaru.
4. Aktifitas siswa dan guru juga terjadi
peningkatan kearah yang lebih baik pada
kelas 17 SLTPN 20 Pekanbaru.
Diharapkan guru-guru biologi di SLTP Negeri 20
Pekanbaru dapat menggunakan pembelajaran
Kooperatif dengan pendekatan Struktural TPS
untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Dahar, R. 1998. Teori-teori Belajar. Depdikbud. Jakarta.
Eggen. 1996. Strategy for Teach Content and Thinking Skill.
Third Edition. Allyn Bacon. Boston.
Muslimin, I. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Unesa.
Surabaya.
Nasution. 1982. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar
Mengajar. Bina Aksara. Jakarta.
Nurkancana, W. 1983. Evaluasi Pendidikan. Penerbit Usaha
Nasional. Surabaya.
Purwanto. 1991. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi
Mengakar. Rosda Karya. Bandung.
Sudhana. 1987. Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses
Belajar Mengajar. Sinar Baru Algesindo. Jakarta.
Suhermi.
2000.
Model
Pembelajaran
Kooperatif.
http://www.pdfdownloadforfree.com/UPAYA-PENINGKATAN-HASIL-BELAJAR-BIOLOGI-MELALUI-PEMBELAJARAN-....html



















REVIEW
UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR BIOLOGI
MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF
DENGAN PENDEKATAN STRUKTUR
DI KELAS 17 SLTP NEGERI 20 PEKANBARU

Biologi merupakan salah satu bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang sangat besar pengaruhnya untuk penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. IPA juga berperan penting dalam usaha menciptakan manusia yang berkualitas. Dalam pembelajaran IPA, khususnya Biologi sangat diperlukan strategi pembelajaran yang tepat yang dapat melibatkan siswa seoptimal mungkin baik secara intelektual maupun emosional. Keberhasilan proses dan hasil pembelajaran dikelas dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain adalah guru dan siswa. Selain menguasai materi seorang guru juga dituntut untuk menguasai strategi-strategi penyampaian materi tersebut, cara guru menciptakan suasana kelas akan berpengaruh terhadap respon siswa dalam proses pembelajaran.
Berdasarkan hal tersebut, untuk menciptakan pembelajaran tersebut perlu adanya model pembelajaran yang mengutamakan pembelajaran berfikir. Dalam hal ini, Pembelajaran berfikir yang diterapkan yaitu modelpembelajaran kooperatif dengan pendekatan struktur.
Model Pembelajaran Kooperatif adalah salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan aktifitas siswa, meningkatkan interaksi, meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran dan akan meningkatkan motivasi siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran. Salah satu pendekatan dari model pembelajaraan Kooperatif adalah Pendekatan Struktural, pada pendekatan ini memberikan pemecahan pada penggunaan struktur yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa.
Pembelajaran Kooperatif dengan pendekatan structural yang diterapkan memiliki keunggulan yaitu : Meningkatkan hasil belajar siswa kelas 17 SLTPN 20 Pekanbaru, Meningkatkan ketuntasan belajar siswa kelas 17 SLTPN 20 Pekanbaru, Meningkatkan nilai perkembangan dan penghargaan kelompok siswa SLTPN 20 Pekanbaru, dan Aktifitas siswa dan guru juga terjadi peningkatan kearah yang lebih baik pada kelas 17 SLTPN 20 Pekanbaru.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar